MENJADI IBU PEJUANG (TAUJIH ISTRI BALON BUPATI KEP-MERANTI)

MENJADI IBU PEJUANG

#parentingharaki

Ibu di sini bermakna perempuan yang melahirkan anak kandungnya. Seorang ibu yang melahirkan anak-anaknya sudah umum tugas pokoknya yakni mengasuh, mendidik dan menyayangi anak-anaknya. Bukan pekerjaan sampingan, tapi tugas utama.

Menjadi ibu pejuang, tidak cuma melaksanakan tugas pokok di atas dan tugas domestik lainnya. Namun, ibu pejuang itu dia juga mempunyai waktu untuk berdakwah untuk masyarakatnya dan ummat manusia.

Bila mencari nafkah itu kewajiban suami, dan mendidik anak serta berkhidmat pada suami adalah kewajiban istri atau ibu. Maka berdakwah di lingkungan masyarakatnya, kepada seluruh manusia adalah kewajiban keduanya baik menjadi suami atau laki-laki atau sebagai istri atau perempuan.

Begitu uniknya tugas dakwah itu menjadi posisi amal yang sama di mata Allah Swt baik laki-laki maupun perempuan-perempuan mukmin.

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Artinya : Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS At-Taubah [9] : 71)

Ayat tersebut menunjukan bahwa tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam kewajiban berdakwah. Baik laki-laki maupun kaum perempuan sama-sama mempunyai tugas untuk menyeru dan mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Seorang ibu pejuang dia akan mendapatkan posisi plus, yakni ganjaran dia telah mendidik anak-anaknya, dan menjadi da’i dimasyarakatnya.

Ibu pejuang juga menyiapkan anak-anak biologisnya menjadi anak ideologisnya atau kader dakwah yang tangguh dari didikan tangannya sendiri.

Ibu pejuang menjadi penenang perjalanan dakwah suaminya, dan selalu berupaya menanggung bersama-sama kesulitan yang dialami dalam keluarganya. Bukan saja dalam hal ekonomi keluarga namun terbesar adalah bersama-sama menghadapi rintangan di jalan dakwah.

Ibu pejuang, bila dia berpisah sementara dengan anak-anaknya bukan karena dia harus bekerja, tapi karena tugas dakwah yang tidak memungkinkan membawa turut serta anak-anaknya. Ibu pejuang tidak takut dengan masa depan karena masa depan akan berada di tangan Islam, tidak takut memasuki masa depan karena dia telah menyiapkan dari rumahnya para jundullah yang kokoh menghadapi hari-hari esok yang tidak mudah.

Itulah yang disebut dengan “Perempuan Tiang Negara”, karena dengan menjadi ibu pejuang dia telah menyelamatkan negara yang dimulai dari keluarganya, menjadi penegak dan pelindung agama dengan dia berdakwah di masyarakatnya.

Sebaliknya, jangan menjadi ibu yang cemen dan cengeng. Jangan menjadi ibu yang sibuk dengan kepentingan diri sendiri, memikirkan hobi dan mempercantik diri di depan umum, sehingga ketika mati tidak ada orang yang berkesan atas hidupnya. Naudzubillah..tsumma naudzu billah..😔

Kepada Allah kita minta pertolongan. Wallahualam.

*setiyati